27.7.11

Kehilangan Penerus, Wayang Palembang Punah


wayang-palembang-18
Kesenian tradisional wayang kulit Palembang, Sumatera Selatan, sekarang ini sudah punah karena tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya. Para dalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Melayu Palembang itu sudah tiada lagi. Sementara pemerintah dan lembaga kebudayaan tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisi itu.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) R Amin Prabowo mengatakan, generasi muda tidak berminat untuk menekuni seni tradisi wayang Palembang karena dinilai kurang menarik, ketinggalan zaman, tidak menjanjikan penghasilan yang layak, serta kurang diapresiasi publik.
Wayang Palembang, yang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa. Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Adapun wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.
Kondisi wayang Palembang memang hampir mati. Pihaknya akan berusaha melestarikan dengan cara menyelamatkan aset- aset peninggalan wayang itu dalam museum. Jika sudah didukung dalang ahli, wayang tradisional itu akan dihidupkan kembali dengan melakukan pelatihan bagi yang berminat.
wayang-palembang-9
Wayang merupakan kekayaan seni tradisi lokal yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2004. tim peneliti UNESCO, Karen Smith (wanita asal Australia menetap di Amerika) dan Yushi Simishu (pria asal Jepang yang menetap di Paris, markasnya UNESCO), berkunjung ke Sanggar Sri Wayang Palembang, pimpinan Agus Amiruddin, di Jl PSI Lautan, RT 10, 16 Ceklatah, 36 Ilir.
Sanggar itu sudah menjadi binaan UNESCO satu-satunya di Palembang. Tim UNESCO ke Sanggar Sri Wayang tidak sendirian. Melainkan dibarengi pimpinan Yayasan Senawangi Jakarta Sumari SSn MM, Ketua Persatuan Pendalangan Indonesia (Pepadi) pusat Eko Cipto SH, Ketua Pepadi Sumsel HR Amin Prabowo SE, Ketua Pepadi Kota Palembang Suparno Wonokromo dan wakil Murdoko Muro Carito, serta Kasubdin Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Palembang, Nurhayati Syafidin.
Pedalang muda dari Sanggar Sri Wayang Palembang, Wirawan (37), anak dari pedalang senior asli Palembang, Rusdi Rasyid (alm), sempat menampilkan lakon sejarah pertarungan antara Pindropuro dengan Citraksi dan Udawa. Juga ada pemain peran (wayang kulit) Jago Arit dan Joko Ketu. Semuanya nama tokoh lokal.

Sekilas Tari Gending Sriwijaya & Tari Tanggai


tari-tanggai-3
Gending Sriwijaya merupakan tari spesifik masyarakat Sumatera Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang bekunjung ke daerah ini, seperti kepala negara, kepala-kepala pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang setara itu. Tari tradisional ini berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Tarian yang khas ini mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu. Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai.
Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder.
Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya dilakukan oleh putri saja. Sultan atau bangsawan.
tari-tanggai-5
Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya. Tari Gending Sriwijaya, termasuk lagu pengiringnya, diciptakan tahun 1944 untuk mengingatkan para pemuda bahwa para nenek moyang adalah bangsa dan besar yang menghormati persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan Sang pencipta.
Masyarakat Palembang memiliki seni tari sendiri, baik bergaya modern hasil kreasi seniman-seniwatinya, maupun tari-tarian klasik.Diantaranya, tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya.
Tari tepak atau tanggai dibawakan oleh 5 penari, sedang Gending Sriwijaya 9 penari. Busana penari tepak atau tanggai ini tidak selengkap busana dan asesori penari Gending. Tari Melati Karangan, merupakan perlambang keagungan kerajaan Sriwijaya mempersembahkan mealati dalam bentuk emas kepada kaisar Cina di abad ke VII. Tari Dana merupakan tarian rakyat yang biasa dibawakan para remaja. Tari digelarkan dalam acara gembira yang dibawakan 4-6orang penari atau secara massal oleh putra-putri. Tari Dana juga dikenal diseluruh Sumatera Selatan.

Kerajinan Tenun Khas Palembang

Selain songket banyak juga jenis tenunan lain yand di hasilkan oleh masyarakat Palembang seperti yang “Tenunan Gebeng”, yang bermotifkan seperti limar patut, limar mandi, limar pocok, poleng gribik, poleng dapros, poleng es lilin dan poleng brongsong, tetapi karena susah perawatannya tenunan jenis ini banyak di tinggalkan.
tenunan-4
tenunan-6

Riwayat Lomba Perahu Bidar

Kelahiran perahu bidar tidak terlepas dari kondisi dan situasi kota Palembang, yang dikelilingi banyak sungai beserta anaknya. Data terakhir, anak sungai yang dulunya berjumlah 108, kini tinggal 60 anak sungai. 
Dahulu, untuk menjaga keamanan wilayah,diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu.
Ketika itu perahu berpatroli itu disebut perahu pancalang, berasal dari pancal dan lang/ilang. Pancal berarti lepas, landas dan lang/ilang berarti menghilang. Singkatnya pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.

Perahu ini dikayuh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang. Memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Karena bermuatan banyak orang, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan pancalang untuk plesiran.
Gambaran bentuk pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage . Disebutkan, Pancalang perahu tidak berlunas, selain sebagai perahu penumpang, ia juga dijadikan sarana untuk berdagang di sungai. Atapnya berbentuk kajang, kemudinya berbentuk dayung dan digayung dengan galah atau bambu.
Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu bidar. Agar terjaga kelestarian perahu bidar, digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut wong doeloe dengan sebutan “kenceran”.
Kini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. Ada dua jenis yang kini dikenal. 
Pertama,perahu bidar berprestasi. memiliki panjang12,70 meter,tinggi 60 cm dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung,1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang. 
Jenis kedua perahu bidar tradisional. memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm serta lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air. perahu ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI

Lembaran Sejarah Palembang di Bukit Siguntang

Dibandingkan daerah lain di sekitarnya, salah satu obyek wisata di Kota Palembang, Sumatera Selatan ini memiliki kontur yang lebih tinggi, sekitar 27 meter di atas permukaan laut, dan disebut-sebut sebagai posisi yang tertinggi di kota tersebut. Akan tetapi, bukan hal itu yang menjadi keistimewaan Bukit Siguntang.
Masuk ke kawasan ini, orang mungkin mengira bahwa tempat ini adalah sebuah taman lengkap dengan pohon-pohon rindang serta bangku-bangku yang dapat digunakan untuk menghabiskan hari. Tetapi siapa sangka jika Bukit Siguntang adalah tempat bersejarah penting, khususnya bagi Palembang.
Bagi masyarakat setempat, kawasan yang terletak di Kelurahan Bukit Lama, Palembang ini masih dianggap keramat. Hal tersebut mengingat di tempat inilah dimakamkan beberapa tokoh penting dari zaman kerajaan.
Tokoh-tokoh tersebut di antaranya, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima bagus Kuning, Panglima Raja batu Api, bahkan disebut-sebut di sinilah Alexander The Great dimakamkan.
Kisah perjalanan Raja Macedonia ini, menurut versi cerita rakyat Melayu adalah cerita tentang Raja Iskandar Zulkarnain atau yang juga kerap disebut Pangeran Si Gentar Alam yang namanya tertera di salah satu nisan di Bukit Siguntang. Nama Iskandar Zulkarnain diadopsi secara lokal boleh jadi karena kuatnya pengaruh Yunani sampai ke Asia.
Ditemukannya patung Buddha pada tahun 1929 di sekitar bukit tersebut semakin mengukuhkan tempat ini sebagai bagian dari sejarah penting di Palembang. Berasal dari abad XI masehi, patung tersebut kini diletakkan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Untuk dapat melihat makam-makam yang ada di sana, setiap pengunjung harus meniti beberapa anak tangga untuk kemudian melihat sekitar sekitar makam yang letaknya berdekatan serta tempat sembayang bagi mereka yang berziarah.
Sementara bagi mereka yang sekadar ingin berwisata dan melihat sisi lain Kota Palembang, tempat ini layak untuk dituju, mengingat dari sinilah setiap orang dapat melihat panorama Kota Palembang dari ketinggian.