27.7.11

Kp. Kapitan, Palembang; Melongok Bangunan Peninggalan China

Kampung Kapitan memang salah satu bangunan peninggalan China. Namun, bukan ciri khas China yang melekat di sana, melainkan perpaduan antara budaya Palembang, China, dan Belanda yang terasa kental mewarnai kawasan yang terletak di pinggir Sungai Musi ini. Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV.

Sejak zaman Sriwijaya hingga kini, Sungai Musi menjadi urat nadi jalur transportasi air untuk menggerakkan perekonomian Kota Palembang dan sekitarnya. Alur mudik kapal, perahu, getek, tongkang, tug boat maupun speed boat yang membawa hasil bumi, dapat terlihat. Namun, di balik padatnya aktivitas di sungai yang membelah Kota Palembang menjadi dua, yakni Seberang Ulu dan Ilir ini, ada yang lebih menarik perhatian wisatawan, yaitu Kampung Kapitan.
Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Kampung ini pada awalnya merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (kapten) yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.
Lahan di Seberang Ulu ini memang untuk para pendatang dari luar Palembang. Uniknya, bentuk rumah mengadopsi bentuk rumah limas (rumah tradisional Palembang) yang diperuntukkan bagi para bangsawan Palembang. Namun, bentuk rumah juga mengadopsi tipologi rumah masyarakat China dengan courtyard (ruang terbuka) pada bagian tengahnya, yang berguna bagi penghawaan dan masuknya cahaya.
Tradisi juga masih nampak pada interior rumah yang dilengkapi dengan meja altar pemujaan bagi leluhur. Perpaduan ini dapat dipahami, sebab pada masa akhir pemerintahan Kesultanan Palembang, masyarakat Tionghoa mulai membaur dengan masyarakat asli Palembang melalui perkawinan atau memeluk agama Islam.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Tionghoa mengalami perubahan dari masyarakat yang diawasi menjadi masyarakat yang mempunyai kedudukan istimewa. Ini terlihat pada kolom penyangga pada bagian teras depan yang pada rumah pertama berbahan kayu, berganti menjadi kolom bata dengan gaya klasik eropa, walau dengan proporsi yang disesuaikan dengan tampang bangunan.
Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah paling sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan tempat pertemuan, sementara kedua rumah di sisi timur dan barat untuk rumah tinggal.
Dari arah darat, hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang. Tapi kini, keanggunan Kampung Kapitan nyaris hilang. Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.
Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu tampak kusam. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang tahan selama ratusan tahun. Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi beberapa patung dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.
Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang. Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan tidak terurus setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.
Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.
 

Masjid Merogan & Masjid Lawang Kidul

Kedua Masjid ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan pada tahun 1310 H oleh Kyai Merogan (Mgs. H. Abdul Hamid Bin Mgs. Mahmud) dengan menggunakan biaya sendiri. Sebagai seorang ulama yang memiliki pandangan kedepan beliau mendirikan Rumah Allah SWT dengan membuat pernyataan tertulis disebut "Najar Mujal Lillahi Ta'ala" naskah tersebut tertanggal 6 Syawal 1310.
Masjid Ki Merogan berada di tepian Sungai Ogan Kecamatan Kertapati sedangkan Masjid Lawang Kidul berada di tepi Sungai Musi daerah Seberang Ilir Kelurahan 5 Ilir.

Kedua bentuk masjid ini serupa sekalipun pendiri kedua masjid itu wafat tetapi sampai dengan saat ini tetap ramai dikunjungi orang karena makam beliau dilokasi Masjid Ki Merogan dianggap keramat dan ada beberapa kisah menarik pada saat beliau masih hidup.

Kisah anak yatim
Pada suatu hari kala itu beliau masih berada di Mekkah menuntut ilmu, berkatalah bahwa dia akan kembali ke Indonesia untuk mengurus anak yatim. Anak yatim yang dimaksud adalah Masjid Merogan dan Masjid Lawang Kidul.

Kisah tentang ikan
Seorang pedagang ikan dari OKI membawa ikan untuk dijual di pasar ikan di Palembang. Mendekati kota Palembang, si Pedagang tiba-tiba menyaksikan ikannya dalam keadaan mati dan dia akan mengalami kerugian yang cukup besar.

Tiba-tiba ia teringat kemasyuran Ki Merogan untuk meminta nasehat, setalah tiba, belum sempat berkata, Sang Kyai menegur, kisanak ikan-ikan yang berada d perahumu tidaklah mati. Insya Allah ikanmu hidup juallah ke pasar dan hiduplah serta peliharalah keluargamu baik-baik. Benar saja tiba di perahu dilihatnya ikan yang dibawanya dalam keadaar hidup.

Cerita lain tentang ikan dari dari seorang penduduk yang ingin membuktikan kekramatan Ki Merogan dengan melepas seekor ikan besar sambil berucap "hai ikan pergilah engkau menemui Ki Merogan sebagai hadiah dariku" beberapa hari kemudian dia menemui Ki Merogan di masjid Merogan, sebelum sempat mengutarakan maksudnya Sang kyai menyapa lebih dulu dan berkata bahwa kirimannya sudah diterima.

Zikir merogan
Beliau mengajarkan zikir dengan cara unik yaitu bila beliau mengajar ke Masjid Lawang Kidul atau sebaiknya menggunakan perahu sambil berkayuh inilah Kyai mengajak murid-muridnya bersama-sama mengucapkan zikir berulang-ulang dan maklumlah penduduk sekitarnya bahwa Ki Merogan lewat.
 

Gunung Dempo, Sumsel; Menyusuri Hamparan Hijau Nan Sejuk

Ditemani secangkir kawe (kopi) beraroma khas Pagar Alam, pemandangan alam nan asri saat pagi di serambi Penginapan Gunung Gare Pagar Alam ini, akan memikat siapa saja yang memandang, menyusuri, dan mendaki hamparan hijau kebun teh begitu segar

Belumlah puas mata memandang, kaki pun akan tergerak melangkah di sela perkebunan teh, mencari-cari benalu teh yang berkhasiat itu di sela batang teh, ditemani segarnya dingin pagi dan sinar mentari yang mulai menyapu punggung gunung.

Gunung Dempo yang memiliki ketinggian 3.159 meter dari permukaan laut ini, merupakan daerah tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Perjalanan selama kurang lebih 6 jam dari Palembang menuju Pagar Alam juga menjadi pengalaman menarik. Memasuki daerah yang dipagari oleh alam pegunungan ini, jalan berkelok dengan lembah dan tebing di tepian jalan mengucapkan selamat datang memasuki Kota Pagar Alam.

Tidak hanya keindahan Gunung Dempo yang terkenal, jalur pendakian gunung ini juga menjadi buah bibir dikalangan pendaki gunung. “Tantangan yang bervariatif, dan bonus (jalur datar) nya sedikit,” komentar para pendaki gunung asal Jawa. Gemericik suara air dan bermacam suara hewan penghuni gunung akan menemani para pendaki.

Mendirikan kemah di hamparan puncak merapi, sebelum melihat kawah Dempo, juga menjadi daya tarik tersendiri. Menghangatkan badan meneguk kawe, di dekat api unggun, gemerlap lampu kota tampak dari ketinggian itu.

Apalagi disaat tahun baru tiba, hamparan ini akan dipenuhi para pendaki, baik yang berasal dari Pagar Alam, Palembang, bahkan dari luar Sumsel. Menyambut tahun baru di Puncak Merapi Dempo, seakan sudah menjadi tradisi. Daerah Pegunungan Dempo ini juga menjadi obyek wisata sebagai salah satu andalan. Derasnya arus sungai di sela bebatuan juga menjadikan ini sangat potensial untuk menjadi tempat arum jeram.

Daerah yang berjarak 300 kilometer dari Palembang ini juga sarat dengan daya tarik sejarah purba. Batu-batu peninggalan purba yang diperkirakan berumur 2500 sampai 3000 tahun ini terdapat di beberapa desa di kaki Gunung Dempo. Bentuk batunya pun beragam, dari lesung, hewan, manusia, dan ada juga batu berbentuk rumah. Megalit inilah yang membawa wisatawan mancanegara asal eropa kerap datang ke daerah pegunungan tertinggi di bukit barisan Sumatera ini.

Belum habis potensi wisata di Pagar Alam. Air terjun di pegunungan ini belum sepenuhnya dikembangkan, bahkan tidak menutup kemungkinan belum ditemukan. Seperti ditemukannya curub (air terjun) Pancur belakangan ini, sebuah keindahan baru yang terkuak.

Selepas memuaskan minat wisata di tengah pesona alam Gunung Dempo. Para wisatawan dapat mengunjungi pasar tradisional di pusat kota. Kudu, sebuah senjata khas masyarakat Pagar Alam menjadi buah tangan favorit, selain kopi, teh, benalu teh, dan alpukat.

Tekad Pagar Alam menjadikan kota wisata dan budaya ini semakin mantap dengan dicanangkannya Visit Musi 2008. Kota penghasil kopi dan teh semenjak jaman kolonial Belanda ini dikukuhkan sebagai kota Bunga. Halaman rumah, sekolah, dan taman kota dipenuhi bunga. Pameran bunga diadakan di alun-alun kota setiap tahunnya.

Balai Benih Jarai pun tidak hanya ditanami anggrek, pembudidayaan bunga krisan dilakukan disana. Pembudidayaan bunga potong ini merupakan bentuk dukungan Pemprov Sumsel terhadap upaya menjadikan Kota Pagaralam sebagai kota bunganya Bumi Sriwijaya.

Kekayaan potensi wisata ini disambut ramah warga setempat. Mereka siap menyapa wisatawan, penginapan memperbaiki pelayanan, jalan-jalan diperpanjang dan dihaluskan. Begitupun hutan, dengan penanaman pohon Bambang, dipertahankan kelestariannya
 

Danau Ranau, Palembang; Keindahan Berselimut Misteri




Keindahan Danau Ranau tak terbantahkan lagi. Namun, letaknya yang jauh dari pusat kota, Palembang, membuat objek wisata ini ibarat “misteri”. Keindahannya tersaput kabut. Oleh karena itu, meskipun indah, wisatawan yang berkunjung ke sini masih bisa dihitung dengan jari. Sama seperti awal terbentuknya danau itu yang dilingkungi misteri. Kendati secara ilmiah terbentuk melalui sebuah proses alam, masyarakat setempat percaya ada misteri yang melatarbelakangi terciptanya danau ini.



Mencapai lokasi ini, selain dari Palembang, juga bisa dijangkau dari Provinsi Lampung. Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 kilometer (km) dari Kota Palembang, 130 km dari Kota Baturaja, dan 50 km dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar tujuh jam dari Kota Palembang. Sementara itu, dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa.

Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung Danau Ranau yang mempunyai luas sekitar 8×16 km dengan latar belakang Gunung Seminung (ketinggian ± 1.880 meter dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada malam hari, udara sejuk dan pada siang hari cerah suhu berkisar antara 20°-26° Celsius. Terletak pada posisi 4°51’45” Bujur Selatan dan 103°55’50” Bujur Timur.



Secara teori, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan itu. Lama-kelamaan, lubang besar itu penuh dengan air. Kemudian, di sekeliling danau baru itu, mulai ditumbuhi berbagai tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Oleh karena itu, danau itu pun dinamakanl Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.

Pada sisi lain di kaki Gunung Seminung, terdapat sumber air panas alam yang keluar dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui Air Terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa yang terletak tidak jauh dari air panas.

Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu, tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.

Masyarakat dari berbagai daerah, seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, dan Komering berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar, jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut.

Persis saat akan menebang pohon, mereka bingung bagaimana cara memotongnya. Ketika itulah, muncul burung di puncak pohon yang mengatakan untuk memotong pohon harus membuat alat mirip kaki manusia. Akhirnya, pohon ara pun tumbang. Dari lubang bekas pohon ara itulah keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara itu, pohon ara yang melintang membentuk Gunung Seminung.

Kondisi ini membuat jin yang tinggal di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit yang ada di sekeliling danau.

Di samping itu, masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan. Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup yang diyakini sebagai makamnya Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makamnya Si Mata Empat.

Si Pahit Lidah yang oleh masyarakat disebut sebagai Serunting Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. Karena nakal, raja mengusir Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini ke Sumatera. Si Pahit Lidah pun menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung. Si Pahit Lidah memiliki kelebihan. Apa pun yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat yang berasal dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku.

Di sini keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan, di antaranya memakan buah yang bentuknya seperti aren. Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah sehingga akhirnya dia tewas. Si Mata Empat yang mengetahui lawannya tewas tidak percaya dan mencoba menjilat lidahnya agar ilmunya bisa diserap. Akhirnya, dia pun tewas.

Begitulah Danau Ranau. Objek wisata yang sebenarnya menjanjikan. Sayangnya, hingga kini wisatawan masih belum banyak yang menikmatinya.

Kesejukan Danau Ranau di Kaki Gunung Seminung


TERLETAK di Desa Lumbok, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Danau ini banyak diminati wisatawan karena keindahan alamnya, udaranya yang segar dan alami.
Tak sedikit wisatawan yang jatuh hati melihat kehidupan masyarakatnya yang masih kental dengan budaya tradisional, sesuatu yang sangat jarang dijumpai di tengah hiruk pikuknya kota. Anda dapat menikmati panorama indah danau Ranau yang dikelilingi hamparan permadani hijau Bukit Barisan.
Menurut legenda, danau ini tercipta setelah gempa besar dan letusan vulkanik Gunung Seminung yang meniggalkan sebuah cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu lalu menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan besar itu.
Di sekeliling danau itu mulai ditumbuhi banyak tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang warga setempat menyebutnya ranau. Itulah mengapa danau ini dinamakan Danau Ranau.
Kini Gunung Seminung berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut yang menyajikan panorama alam yang sungguh indah. Di kaki Gunung Seminung terdapat sumber air panas alam yang keluar dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui air terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa yang terletak tidak jauh dari air panas.

Sepanjang perjalanan menuju Danau Ranau, Anda bisa melihat hamparan perkebunan holtikultura yang diselingi perkebunan kopi rakyat dan areal persawahan. Sebagian besar masyarakat Lampung Barat bermata pencaharian dari sektor perkebunan kopi dan hortikultura, maka tak heran holtikultura dan palawija yang ada di Propinsi Lampung disuplai dari daerah ini.
Danau Ranau masuk dalam kawasan wisata Seminung Lumbok Resort. Sebelum sampai ke kawasan wisata itu, kita melewati Bukit Johor, dari ketinggian kita dapat melihat langsung Danau Ranau secara keseluruhan. Di bukit ini Pemkab Lampung Barat sebagai pengelola kawasan wisata itu mengembangkan Wisata Dirgantara Paralayang. Bagi Anda yang menyukai Paralayang, Anda bisa berparalayang sembari menyaksikan keindahan panorama ke bawah yang menampilkan wajah tenang Danau Ranau. Bagi yang takut ketinggian pun tidak perlu khawatir, karena disana akan dipersiapkan tempat untuk sekadar duduk-duduk sambil menghirup udara yang segar terasa membersihkan paru paru.
Melihat tingginya animo wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Seminung Lumbok akhir-akhir ini, pihak pengelola senantiasa berusaha mencukupi sarana prasarana wisata yang ada. Seperti Jogging Track hingga ke air terjun terdekat, juga bagi perusahaan yang akan mengadakan kegiatan “Team Building” bagi karyawannya, pihak pengelola telah mempersiapkan fasilitas outbond lengkap dengan instruktur yang berpengalaman. Bahkan Convention Hall berkapasitas 400 orang peserta telah dipersiapkan untuk menyelenggarakan acara rapat, seminar, meeting, dll. Dengan menggabungkan antara suasana rapat sambil berlibur, tentu akan memberikan nuansa tersendiri bagi para pengambil keputusan.
Di tepi danau Ranau saat ini telah dibangun shelter untuk bersantai dan dermaga bagi wisatawan yang ingin menyewa perahu untuk berkeliling danau dan mandi air panas (hot spring) yang letaknya tidak jauh dari lokasi hotel. Kelengkapan fasilitas kamar pun tak luput dari perhatian pihak pengelola. Saat ini seluruh kamar telah dilengkapi dengan sarana standar hotel berbintang seperti tv, ac, dan kulkas. Bagi pengunjung yang membawa anak-anak, tidak perlu khawatir mereka akan merasa bosan, sebab di pelataran hotel telah dipersiapkan arena bermain anak seperti komidi putar, bianglala, dll.
Dengan banyaknya obyek wisata yang berada di sekitar Kawasan Wisata Seminung Lumbok Resort tentu bisa menjadi alternatif pilihan kunjungan saat anda menginap di Hotel Seminung. Jadi bila sudah sampai ke Bandar Lampung, tujuan wajib Anda berikutnya adalah Danau Ranau. Istirahatlah sepuasnya di Seminung Lumbok Resort, karena masih banyak obyek wisata menarik lainnya yang dapat Anda kunjungi. Dijamin liburan Anda akan sangat mengesankan.
Jika ingin ke tempat ini dari bandara Radin Inten II Anda bisa langsung mencarter mobil minibus travel yang biasa mangkal di depan Bandara. Anda tinggal menyebutkan tujuan ke Seminung Lumbok Resort, Lampung Barat dan tinggal bernegosiasi.
Jika melalui jalur darat Anda langsung ke Terminal Rajabasa lalu naik bus jurusan Ranau turun di Way Tanding. Dari Pertigaan Way Tanding, naik kendaraan umum (angkot) menuju Hotel Seminung.